Kamis, 12 Januari 2017

Gara-Gara Ujian

Saya memang awalnya punya niat untuk mengaktifkan dan meramaikan blog ini di tahun 2017. Sampai detik ini, niat tersebut masih ada. Tapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Sekarang saya masih duduk di kelas 12 SMA. Beberapa bulan lagi saya akan menghadapi Ujian Nasional. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, bahkan bulan depan saya sudah harus mengikuti serangkaian Ujian Praktek. Belum lagi ada banyak Try Out yang harus dijalani juga.
Akan ada lebih banyak kesempatan jika saya tinggal di rumah. Masalahnya, saya tinggal di asrama dan otomatis saya (mau tidak mau) bernaung di bawah segala macam aturan dan batasan-batasan yang ada. HP saya dapat hanya setiap hari Kamis, Sabtu, dan Minggu. Itu pun, ada jam batasannya. Itu pun, kalau terlambat mengembalikan HP, kesempatan berikutnya HP tidak akan diberikan. Ada laboratorium komputer, tapi tentu saja harus berbagi dengan orang lain. Sungguh, niatan saya tentang blog ini terancam.
Tapi saya masih akan berusaha semampu saya. Setidaknya saya bisa memakai jam bebas saya untuk mengisi blog ini, sehingga studi saya tidak terganggu. Dan kalaupun ternyata saya belum bisa konsisten untuk beberapa bulan ke depan, itu berarti kesibukan saya memang benar-benar membludak. Maklumi saja, ya.

Rabu, 04 Januari 2017

Tingkah di Facebook

Saya mengenal internet untuk pertama kali kira-kira waktu saya masih duduk di bangku SD. Saat itu, yang saya tahu adalah Facebook. Maka secepat kilat saya membuat email dan mendaftar di Facebook. Walaupun tidak seratus persen, tapi saya masih ingat bagaimana tingkah saya di Facebook dulu.

1. Sering ganti nama.
Sewaktu pertama mendaftar, saya menggunakan nama asli saya. Lalu lama kelamaan entah apa yang mengilhami pikiran bocah saya, saya mengganti nama asli dengan nama Jepang. Nama Jepang itu saya dapatkan dari internet, melalui semacam coverter online gitu. Tinggal memasukkan nama asli saya, lalu ulala ... muncullah sebuah nama Jepang. Saya ingat sekali, nama Jepang saya saat itu adalah Yamashita Yoshiko. Ya, karena ada "Y" - nya, saya percaya saja kalau itu memang nama Jepang saya. Nah, saya lupa nama saya selanjutnya. Walaupun sering bergonta-ganti nama, tapi saya bersyukuuur sekali karena saya tidak pernah mengganti nama dengan "Yovie Cyankk Dya  C3lal0eh" atau "AnDrEA y0ViE LuuPhh LuupH" atau nama alien lainnya.

2. Menulis dengan huruf 4L4Y.
Percayalah, dulu saya pernah menulis kalimat dengan campuran huruf-angka. S3peRt1 1n1. Ini semua gara-gara teman saya. Dia yang mengajari saya cara menulis seperti itu dan dengan bangganya saya mengikutinya. Ya, namanya juga bocah. Bocah gemblung.
Saya curiga, jangan-jangan ini penyebab mata saya minusnya gede. Gara-gara sering baca rentetan kalimat yang lebih menyerupai bahasa komputer itu. Semoga tulisan saya itu tidak menyebabkan sakit mata yang berujung pada kebutaan pada orang-orang yang pernah membacanya. Tapi tidak apa-apa, saya bersyukur pernah mengalami fase itu karena itulah fase menuju pertobatan sehingga saya bisa kembali ke jalan yang benar dan menulis seperti sekarang ini. 

3. Pasang status lebay.
Saya ingat sekali, kalau pasang status pasti saya lebay bingit. Suatu hari saya pasang status "Tuhaaan, aq sdiih bgtz .... Knp tow hrz giniech? Mw nangis rsanyaa" (Tuhan, aku sedih banget...Kenapa to harus gini? Mau menangis rasanya) Ya, saya sediakan terjemahannya kok, tenang saja. 
Beberapa tahun kemudian saya melihat kembali status itu dan mencari tahu sebabnya. Lalu saya menemukan sebuah chat saya dengan seseorang.
Dia : "Kamu kenapa Yov kok statusnya sedih gitu?"
Saya : "Hehe gg pp koq. Q br priksa mata trz tw2 mataq dah minus 3.." (Hehe nggak papa kok. Aku baru periksa mata terus tahu-tahu mataku udah minus 3..")
Dia : "......." , "oh, gitu..." Sepertinya dia menyesal menanyai saya.
Saat itu saya benar-benar hanya diam saja dan pelan-pelan log out dari Facebook sambil memaki diri sendiri. Wo lha memang lebay. Sedih sih, ya sedih. Tapi statusnya itu lho, enggak nguati.
Dikatakan di status mau menangis? Padahal seingat saya saat itu saya ketawa-ketawa saja, tuh.
Namanya juga bocah. Ya, sekali lagi, bocah gemblung.

Itu baru tiga hal, ya. Sebenarnya masih ada beberapa hal lagi, tapi kalau saya tulis semuanya di sini malah kepanjangan jadinya. Kamu pernah juga kah melakukan hal serupa di Facebook?

Jumat, 30 Desember 2016

Memperjuangkan 2017

Tahun 2016 sudah di ujung tanduk. Sebentar lagi, amat sangat sebentar, kita akan menghadapi tahun yang baru. Setahu saya, setelah 16 itu 17. Berarti kita akan "berpindah" ke tahun 2017. Kalau ditanya perasaan saya, jujur saya ada di antara senang dan entahlah saya tidak bisa mendefinisikan perasaan yang satunya. Senang, karena itu berarti sebentar lagi saya lulus dari SMA dan asrama. Ya, saya rindu kebebasan. Maka dari itu, saya sudah sangat tidak sabar untuk segera lulus saja. 

Lalu apa yang membuat saya merasakan perasaan yang tidak bisa didefinisikan itu? 
Sebenarnya sederhana saja, biasanya orang akan merasakan ini kalau dia mau menghadapi sesuatu yang baru. Katakan saja nervous, gitu. Rasanya seperti mau tampil dan dilihat ribuan orang (padahal saya tidak tahu rasanya gimana). Pokoknya deg-degan gimana gitu deh.

Nah, karena kata orang hidup itu perjuangan, berarti selama orang hidup pasti dia berjuang entah untuk apa itu. Supaya tahun depan hidup saya tetap punya makna, maka harus ada hal-hal yang saya perjuangkan. Untuk jangka pendeknya, yang harus saya perjuangkan adalah Try Out dan ujian-ujian akhir lain. 

Sejak saya SD, saat-saat sebelum UN itu selalu dipenuhi oleh yang namanya Try Out. Biasanya Try Out ini tidak hanya dilakukan sekali. Itulah yang membuat kebanyakan pelajar tingkat akhir bosan dengan yang namanya soal karena sudah jadi makanan tiap hari. Selain Try Out juga masih ada Ujian Praktek, Ujian Sekolah, dan akhirnya ... Ujian Nasional. Mengingat keinginan saya untuk segera lulus, maka saya harus memperjuangkan ujian-ujian itu sehingga hasilnya baik dan saya bisa lulus. Saya berharap menghadapi seabrek soal tidak membuat saya phobia terhadap soal.

Selain Try Out dan kawan-kawannya, di tahun 2017 saya ingin memperjuangkan blog saya. Blog ini sempat saya tinggalkan cukup lama dan saya ingin menghidupkan dan meramaikannya kembali. Saya berharap semoga saya tetap bisa setia menulis.

Setelah saya lulus, tentu masih ada hal yang harus diperjuangkan. Tapi itu urusan nanti saja karena yang terpenting adalah saya bisa lulus. Ya, pokoknya saya harus lulus. Semakin ke sini kok kelihatannya saya ngebet banget kepingin lulus, ya.

Lalu, apa yang mau kamu perjuangkan di tahun 2017?

Selasa, 27 Desember 2016

Ketemu Raditya Dika

Raditya Dika? Siapa sih yang tidak tahu Raditya Dika?
Ya ada sih.
Tapi saya yakin pasti kalian tau siapa dia. Minimal tau saja deh.

Saya ini termasuk penikmat karya Raditya Dika. Saya cukup terhibur dengan beberapa novel dan filmnya. Walaupun saya bukan orang yang menggila-nggilai Raditya Dika sampai tahu segala hal tentang dia, tapi kalau mak bedunduk tahu-tahu ketemu dia ya cukup bikin saya deg-degan.

Ceritanya kemarin Kamis, 22 Desember 2016 saya ke Hartono Mall Yogyakarta, mau nonton film. Nah, saat saya sedang menunggu sesuatu yang enggak pasti, saya melihat ada beberapa orang berpakaian security sedang berjajar. Di dekatnya ada beberapa orang juga yang berdiri sambil memegang HP masing-masing. Saya tidak mendugai apa-apa, sama sekali tidak mencoba berpikir ada apa di sana. Lho, kok tiba-tiba waktu saya sedang berdiri di dekat situ, ada sosok yang sama sekali tidak asing.

Raditya Dika, Bayu Skak, Titi Kamal. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke salah satu ruangan bioskop. Saya cuma bisa melongo. Tadinya saya berencana ambil HP untuk foto mereka, tapi wajahnya Raditya Dika yang shine bright like a diamond itu benar-benar mempesona saya. Saya merasa mata kami sempat bertemu, tapi ya apa daya, paling-paling detik ini dia juga sudah lupa. Tapi saya di sini tidak bisa lupa. Aduh, kayak orang jatuh cinta dalam diam.

Suka, tapi tidak berani mengungkapkan. Entah takut apa, takut ditolak, takut diusir sama bapaknya atau gimana. Ya, pengalaman saya tadi menyerupai jatuh cinta dalam diam lah pokoknya. Sekalinya ketemu cuma bisa memandang dari jauh sambil menikmati sensasi jedug-jedug di dada. Walaupun habis itu ada rasa nyesel, kok tadi aku enggak coba nyamperin, atau semacamnya, tapi kalau sudah bisa lihat, sudah senang, to?

Eh, tapi, ngomong-ngomong, saya tidak jatuh cinta dengan Raditya Dika, lho. Hanya mengandaikan seperti orang yang lagi jatuh cinta dalam diam saja sih.

Hayo, kalian pernah gitu ya? Atau malah sekarang lagi jatuh cinta dalam diam?

Salam hehe!